Kamis, 11 Oktober 2012

Tewas Karena Mahasiswa

Darah mahasiswa Makassar kembali meleleh di tanah. Bukan karena ideologi, demokrasi, unjuk rasa tetapi semata-mata persoalan prinsip kelompok atau rasa malu. Dalam dua pekan terakhir saja, medio September-Oktober 2012, tiga mahasiswa yang menempuh pendidikan sarjana tewas akibat tawuran antar sesama mahasiswa. 

20 September 2012,  Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI), Muhammad Ibrahim tewas akibat tawuran di kampus tersebut. Selama tiga pekan kemudian, 11 Oktober 2012 kampus Universitas Negeri Makassar, menorehkan darah. Dua mahasiswanya, yang sedang menempuh pendidikan tewas kena tikam sesaat setelah bentrokan. Keaduanya adalah Rezki Munandar (23) dan Herianto (23). Kedunya mahasiswa angkatan 2008 Fakultas Teknik Otomotif UNM. 

Betapapun Makassar terkenal oleh budaya kekerasannya, namun istilah tawuran atau bentrokan di kawasan kaum cendekia atau cerdik pandai, tetaplah tidak akan diterima oleh akal sehat. Tak satupun orang akan membenarkan atau membela, apalagi jika sudah menewaskan manusia.

Kejadian ini, bukan lagi mencari siapa yang bertanggungjawab, karena helas pihak rektoratlah yang harus bertanggungjawab. Tetapi sistem dan pendekatan yang dilakukan oleh pihak kampus terhadap para mahasiswa. Para dosen dan rektorat harus membuka mata dan membuka diri, kemudian bertanya?...kenapa kerapkali tawuran berlangsung di kampus mereka?, meski hanya persoalan sepele?. Rektor dan dosen harus mengubah sistem pendidikan dan pembinaan di kampus tersebut. Dosen, bukan hanya sekedar mengisi absen,berdiri di hadapan mahasiswa lalu bercerita tentang teori.